Tamu Tak Diundang Dan Auman Si Macan Di Rimba Semeru

Maret 2013 adalah waktu dimana kami memutuskan untuk melakukan pendakian di salah satu puncak tertinggi berapi di Indonesia. Gunung Semeru dengan puncaknya Mahameru. Mahameru adalah impian para pendaki di Indonesia. Selain karena ketinggiannya tapi juga segala keindahan yang terdapat di dalamnya serta misteri yang sampai sekarang hidup bersamanya. Gunung ini sejak dahulu menjadi spot yang paling dicari oleh para pendaki dan kemudian semakin memuncak ketika film 5 cm yang diangkat dari novel dengan judul yang sama dirilis pada akhir 2012 silam. Film ini menggambarkan persahabatan 5 orang yang berlatarbelakang pendakian gunung Semeru, namun pendakian kami kali ini tidak dilatarbelakangi oleh film tersebut. Pendakian ini sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum film tersebut menjadi box office Indonesia.

Awalnya saya dan Bagus hanya sekedar berencana tanpa tahu kapan rencana itu akan terealisasikan. Saya, Bagus dan teman-teman lainnya adalah kelompok yang sering melakukan pendakian di gunung-gunung yang ada di Sulawesi Utara. Tentunya untuk melakukan perjalanan sejauh itu membutuhkan modal yang tidak kecil. Apalagi ini adalah pendakian pertama kami di pulau Jawa. Saya sendiri ketika itu masih berstatus sebagai salah seorang mahasiswa yang belum mempunyai penghasilan sendiri. Meminta kepada orangtua untuk melakukan pendakian yang jauh rasanya tidak tepat.

Waktu pun berjalan. Selang beberapa bulan setelah pembicaraan itu saya sempat mengikuti beberapa proyek yang ditawari oleh teman. Alhamdulillah saya mendapatkan uang dengan nominal yang lumayan besar. Uang itu semulanya akan saya gunakan untuk keperluan pribadi namun di suatu malam saya terpikir kembali dengan rencana pendakian ke Semeru. Saya lantas menghubungi Bagus yang waktu itu bekerja sebagai juru parkir di salah satu maskapai swasta. Gayung bersambut, Bagus ternyata juga memiliki simpanan yang sengaja disisihkan untuk pendakian ini. Modal sudah ada tinggal waktu pendakian yang belum ditentukan. Semakin lama waktu pendakian maka uang yang kami simpan kemungkinan akan terpakai untuk keperluan lainnya. Waktu itu Januari 2013. Kami mencoba untuk mendapatkan informasi mengenai pendakian gunung Semeru. Informasi yang kami dapatkan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa gunung Semeru saat itu sedang dalam masa pemulihan dan ditutup sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Untuk beberapa waktu ke depan kami isi dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk pendakian ini. Saya mencoba untuk menawari kepada teman-teman yang lain untuk ikut dalam pendakian ini. Tak disangka beberapa orang pun bersedia untuk ikut yaitu, Peter yang juga anggota Mapala di Fakultas Kedokteran UNSRAT yang juga sebelumnya sudah pernah melakukan pendakian ke Semeru namun hanya sampai di Kalimati, Tyo teman seangkatan dan sekontrakan, dan Widi teman sepaguyuban dari Ternate.

Kabar dari TNBTS pun tiba. gunung Semeru dibuka pada 27 Maret 2013. Kami fix berangkat tanggal tersebut dengan rencana pendakian pada besok harinya. Satu-satunya orang yang berpengalaman dalam pendakian di pulau Jawa adalah Peter. Dia kami tunjuk sebagai Team Leader. Kami berangkat menggunakan transportasi udara menuju Surabaya. Surabaya menjadi pintu masuk menuju Mahameru dari kota-kota yang ada di Timur Indonesia. Perjalanan Manado – Surabaya kami tempuh dalam 3 Jam.

HPIM0004
Perjalanan Manado-Surabaya

Kami mengambil penerbangan paling pagi dengan harapan dapat langsung menuju Ranu Pani hari itu juga. Tibanya di Bandara kami langsung mencarter kendaraan menuju kota Malang.

Kota indah di kaki-kaki pegunungan. Kendaraan yang kami gunakan meluncur meninggalkan Surabaya yang sibuk dan bising. Di Malang kami singgah di salah satu teman dari Peter yang dulu pernah mengantarnya ke Semeru. Kami juga membeli beberapa bahan untuk logistik disini. Kami diantar menuju terminal Arjosari Malang. Dari Terminal kami menumpang angkot putih yang menuju ke pasar Tumpang. Tumpang berada tidak jauh dari Malang dan merupakan pintu masuk menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari kabupaten Malang.

Di Tumpang kabar tidak sedap kami dengar. Rencana pendakian yang sudah setengah jalan hampir berantakan disebabkan informasi mengenai perpanjangan masa penutupan gunung Semeru. Kami tiba dihari yang sama dengan informasi tersebut keluar. Penutupan diperpanjang hingga 1 bulan ke depan. Itu artinya kami harus kembali lagi kesini 1 bulan mendatang dan hal itu tidak mungkin terjadi. Dilema pun terjadi. Beberapa dari kami ingin memutar haluan dan mencari gunung yang lain. Namun saya tetapi berkeyakinan bahwa kami dapat menuju Mahameru saat itu. Kami mencoba mencari transportasi menuju basecamp Ranu Pani namun tak satu pun yang mau mengantarkan karena takut diblack list oleh pihak TNBTS. Di tengah kepasrahan kami berjalan dalam dinginnya malam Tumpang saat itu. Tiba-tiba ada pengendara truk yang memberhentikan truknya di depan kami. Bapak itu menawari kami untuk singgah ke tempatnya yang berada di jalur Tumpang-Ranu Pani. Kami pun mengiyakan karena saat itu kami sudah bingung harus kemana lagi.

HPIM0028
Diangkut Sama Bapak Pemilik Basecamp

Setelah tiba di rumahnya bapak itu kami meminta izin untuk melakukan bersih-bersih. Rumah bapak itu ternyata adalah basecamp juga. Kami bertanya-tanya tentang Semeru kepada bapak tersebut. Beliau merasa kasihan karena kami datang dari jauh dan harus pulang dengan hasil yang nihil. Bapak menawarkan untuk mengantarkan kami menuju Ranu Pani dengan syarat kami harus berangkat tengah malam dimana petugas basecampnya sudah istirahat. Kami menyetujuinya. Luar biasa niat kami dimudahkan dengan bantuan bapak ini. Kami kemudian segera mempacking keperluan pendakian ke dalam carrier. Sebagian barang kami tinggalkan di rumah bapak. Pukul 11 malam kami meluncur dengan menggunakan truk menuju Ranu Pani. Cuaca sangat bersahabat. Bintang-bintang terlihat sangat jelas. Semakin ke atas udara menjadi semakin dingin. Truk tua itu meluncur membelah jalanan dan terkadang harus mengerang ketika melalui tanjakan terjal.

Kami tiba di basecamp Ranu Pani pukul 1 dini hari. Ternyata ada satu orang petugas yang berjaga malam itu. Bapak yang mengantar kami pun segera turun ketika tiba di Ranu Pani. Kami kemudian diminta untuk turun kembali ke Tumpang oleh petugas tersebut. Terjadi perdebatan cukup alot antara petugas dengan kami saat itu. Kami beralasan tidak dapat turun malam itu mengingat hari sudah malam dan kami sangat kecapekan. Kami disuruh tinggal di sebuah shelter yang berada di dekat dengan pos registrasi. Semula kami semua mengalah dan bersedia turun keesokan harinya. Kami pun tidur.

Pagi-pagi sekali terdengar suara orang-orang yang sedang mengemasi barang-barang. Itu adalah pendaki lainnya yang juga tidur di shelter tersebut. Kami kemudian mencoba menyapa mereka. Mereka adalah pendaki yang berasal dari Padang yang baru saja turun dari Semeru. Kami sontak kaget karena mengingat status Semeru yang masih ditutup. Ternyata mereka menerobos melalui jalur lainnya untuk menuju Mahameru. Jalan lain terbuka pikirku saat itu. Kami lantas menyanyakan mengenai jalur yang mereka lalui kemarin. Mereka menggambarnya dalam secarik kertas. Setelah rombongan pendaki itu pergi kami berdiskusi apakah melajutkan perjalanan atau turun. Kami kompak untuk meneruskan perjalanan ilegal ini. Jalur yang kami lalui adalah jalur warga yang biasa memburu hewan di sekitar lereng Semeru. Modal kami hanya secarik kertas berisi petunjuk tersebut. Salah sedikit dipastikan kami akan hilang di tengah rimba yang dingin itu.

HPIM0036
Setapak Menuju Rimba Semeru

Awalnya kami melewati perkebunan warga dengan jalan semen. Mendekati batas hutan jalan berubah menjadi tanah. Kami mulai memasuki kawasan hutan yang ditumbuhi pepohonan pinus. Jalan semakin menanjak. Setiap mencapai puncak tanjakan kami berhenti untuk menghela nafas.

Kami terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di puncak perbukitan tersebut. Dari atas bukit terlihat padang sabana yang sedang hijau-hijaunya dan juga terlihat deretan gunung-gunung di pulau jawa yang diam membisu.

Musim hujan belum bener-benar berakhir ketika kami mendaki. Dari puncak bukit kami harus berjalan menurun melalui celah sempit di antara dua batu besar. Perjalanaan turun tidak memakan waktu yang lama. Kami tiba di sabana beberapa waktu kemudian. Ini adalah pemandangan yang luar biasa karena tak pernah kami lihat di Sulawesi sebelumnya.

Dan yang lebih luar biasa adalah kami menemukan jejak-jejak misterius dari hewan pemangsa yang hidup liar di pegunungan ini. Kami berjalan lebih waspada karena bisa saja terjadi serangan yang tiba-tiba. Di ujung sabana lagi-lagi kami seperti hipnotis dengan pemandangan yang sungguh memanjakan mata. Bak bertemu oase di tengah padang pasir. Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo adalah danau dengan warna kehijau-hijauan telah nampak di depan mata kami. Danau yang konon katanya tempat turunnya dewi-dewi telah berada di depan mata kami. Danau yang indah itu sangat sepi saat kami tiba disana. Hanya ada 2 orang kampung yang sedang memancing di tepiannya. Langkah kaki kami kian dipercepat karena tak sabar lagi untuk menikmati jernihnya air di Ranu Kumbolo. Kami tiba pukul 11 siang di shelter Ranu Kumbolo. Kami memutuskan untuk beristirahat agak lama sambil menyiapkan makan siang. Setelah makan siang dan bersitirahat yang cukup kami beranjak meninggalkan Ranu Kumbolo. HPIM0101Tanjakan Cinta yang melegenda itu tepat berada di depan kami. Katanya siapa yang dapat berjalan sampai ke puncak bukit tanpa melihat kebelakang cintanya akan abadi seabadi bunga edelweiss di lereng-lereng Semeru. Sebuah legenda yang sudah dipercayai oleh orang-orang yang pernah berada di sini. Kami pun mencoba mengikutinya, bukan untuk dipercaya tetapi untuk merasakan sensasi dari cerita yang melegenda itu. Dari puncak bukit lagi-lagi terlihat pemandangan yang tak kalah eloknya Ranu Kumbolo di sisinya dan padang rumput dengan bunga-bunga ungu di sisi yang lain. Bunga-bunga ungu ini adalah sejenis tumbuhan pengganggu yang bersifat ekspansif. Namanya verbena brasiliensis. Seperti hama lebih tepatnya namun mereka sangat cocok berada disana. Menambah daya magis pegunungan ini. Padang itu dinamakan oro-oro ombo.


Kami berjalan dengan cepat menyusuri rerumputan yang berbatas dengan bukit-bukit. Di penghujung jalan kami masuk ke dalam luasnya hutan cemara yang semakin berkabut. hutan itu berbukit-bukit dengan jalan yang masih nampak jelas. Hutan cemara dan pinus itu dinamakan Cemoro Kandang. Sebelumnya ketika melintasi oro-oro ombo sekali lagi kami melihat jejak kaki sang pemburu berekor disini. Kami tak mau berandai-andai makhluk seperti apakah itu.HPIM0149 Semakin dalam kami masuk semakin mistis suasana yang kami rasakan. Gunung ini benar-benar sepi. Namun tak berapa lama kami mendengar suara orang-orang yang mendekat. Itu benar orang. Mereka rombongan pendaki yang juga menerobos masuk TNBTS. Di ujung tanjakan sebuah bukit kami menunggu Bagus dan Tyo yang berjalan lebih lambat. Tiba-tiba kami mendengar suara auman hewan yang cukup keras dan terasa sangat dekat dengan posisi kami saat itu. Teman saya tersentak kaget dan sempat meloncat ke arah saya. Kami mendengarnya bersama. Tyo dan Bagus pun datang. Mereka menceritakan yang membuat bulu kuduk kami sampai merinding. Mereka bahkan melihat hewan tersebut berjalan melintasi bukit di seberang jalur pendakian. Kami memutuskan untuk berjalan bersama-sama.

Di ujung hutan nampak tanah lapang yang ditumbuhi oleh bunga-bunga edelweiss dan rerumputan. Kawasan itu dibatasi oleh hutan pinus. Lokasi ini dinamakan Jambangan. Hari hampir sore ketika kami tiba disitu.

HPIM0160
Jambangan

Letihnya tubuh ini tak membuat kita berhenti berjalan. Langkah yang kian gontai tidak berarti kami akan berhenti di sini. Perjalanan kami lanjutkan hingga langkah-langkah kami terhenti di sebuah tanah lapang yang ditumbuhi alang-alang dan bunga Edelweiss. Di belakangnya menjulang megah puncak dimana dewa-dewa di tanah jawa bercengkrama. Disinilah kami berhenti untuk sekedar meluruskan kaki dan menarik nafas. Tempat ini tepat di bawah naungan Mahameru. Kami tiba di Kalimati.

Lagi-lagi Tyo dan Bagus tertinggal di belakang. Di Kalimati kami mendirikan tenda di dalam sebuah bangunan shelter agar terhindar dari angin malam yang dinginnya menusuk. Sebelum malam menjelang kami mengumpulkan kayu untuk dibakar sebagai penghangat tubuh. Kami berbagi cerita selama perjalanan tadi sambil merencanakan pendakian menuju puncak dini hari nanti. Cuara yang cerah tiba-tiba berkabut dan hujan pun turun. Malam semakin kelam dan udara semakin dingin. Cerita kami malam itu dihiasi oleh bayang-bayang jejak kaki pemburu berekor yang mungkin sedang mengintai kami malam itu.

Pukul 12 kami terbangun dan segera mempersiapkan hal-hal yang akan dibawa menuju Mahameru. Hujan telah reda dan bulan bersinar sangat terang tengah malam itu. Tak ada seorang pun disini selain kami. Kami tak pernah sejauh dan setinggi ini. Peter pun hanya mencapai Kalimati ketika mendaki kesini sebelumnya. Bermodalkan cahaya bulan dan senter kami mulai berjalan menyusuri hutan membelah malam. Kami mengambil jalur menurun melalui bekas sungai yang tidak memiliki air lagi. Entah bagaimana kami bisa sejauh ini. Hanya Tuhan yang mampu menuntun langkah-langkah kami saat itu. Suara angin terdengar seperti bisikan bahkan teriakan orang yang memciptakan pikiran-pikiran aneh di benak kami. Jalan semakin menanjak dan berdebu. Malam itu terasa sangat dingin dan sunyi. Berhenti lama-lama akan membuat ujung-ujung jari terasa membeku. Malam itu kami menguatkan niat dan mulai berjalan meniti setapak menuju Mahameru. Hanya kami 5 orang anak muda yang berada di gelapnya hutan cemara. Berjam-jam kami habiskan, berkilo-kilometer jarak kami lalui, malam ini kami hampir tiba, suara nafas kami mulai tersengal dibalut dinginnya angin yang berhembus kencang. Sesekali kami berhenti untuk menghela nafas yang mulai kehabisan. Sejam lamanya sudah kami berjalan dari Kalimati. Kini kami tiba di sebuah tempat dengan  tanah lapang yang agak sempit. Di salah satu pohon terpasang sebuah plang bertuliskan Arcopodo. HPIM0187Tempat inilah batas terakhir tumbuhnya vegetasi, tempat inilah terhampar tugu-tugu batu yang bertuliskan nama-nama puluhan pendaki yang menemui ajalnya ketika mendaki Mahameru. Entah karena kehabisan tenaga, kedinginan ataupun menghilang tak menentu lokasinya. Di tempat inilah terdapat 2 arca mistis yang hanya dapat ditemui oleh orang-orang tertentu. Kami berpandangan dan sejenak terdiam, ada rasa haru ketika melihat nama-nama pendaki yang telah tiada tertulis di atas batu-batu marmer putih. Terdengar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan temanku untuk mereka yang telah pergi dalam dekapan Mahameru. Semoga mereka bisa menerimanya.

Langkah kami lanjutkan. Masih beberapa jam lagi sebelum mentari pagi muncul. Jalur yang kami lalui kian berbatu dan berpasir. Hutan cemara terakhir telah kami lalui menyisakan gunungan pasir maha luas di depan mata kami. Setiap langkah kami pasir akan merosot sehingga semakin memperlambat langkah kami.

HPIM0194
Menuju Puncak Mahameru

Langkah kami kian melemah, suara kami kian serak, nafas kami kian sesak, tersisa sedikit lagi daya di tubuh kami. Mahameru. Di ujung gelap kami berhasil mencapai puncaknya satu per satu. Kami tiba dengan waktu yang tidak bersamaan. Disitulah pijakan terakhir kaki-kaki yang letih. Tak ada satupun kata yang terucap, hanya air mata yang berderai dan doa yang dipanjatkan di dalam hati. Sungguh perjalanan yang hampir mustahil. Sungguh panjang jalan yang kami lalui. Di sini di puncak tertinggi di pulau Jawa kami berdiri dan berdoa.

Kami hanya berlima di puncak. Menurut kami ini adalah perjalanan yang paling menguras tenaga dan hati. Semeru selalu spesial bagi kami saat itu hingga saat ini. Damai rasanya berada bersama dengan sahabat-sahabat terbaik dari tempat tertinggi. Perjalanan turun menjadi sangat mudah karena pasir yang longsor membantu kami.

HPIM0301
Jalur Pendakian
HPIM0305
Perjalanan Turun Dari Puncak

Setelah tiba di Kalimati kami bergegas packing namun sebelum meninggalkan Kalimati hujan tiba-tiba turun. Seakan-akan Tuhan mengerti dengan apa yang kami butuhkan. Saat itu kami memang kehabisan stok air. Hujan turun tidak begitu lama dan kami mendapatkan 1 botol air yang dapat digunakan sampai ke Ranu Kumbolo. Segera setelah hujan berhenti kami melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Rencananya kami akan langsung menuju Ranu Pani namun ternyata ketika tiba di shelter Ranu Kumbolo hujan turun sangat deras hingga dini hari. Kami memutuskan untuk camp semalam lagi.

Ada hal yang cukup membuat jantung berdegup kencang malam itu. Setelah makan malam. Kami melihat seberkas cahaya putih mendekat ke arah shelter. Kami pikir itu adalah pendaki lain atau orang kampung yang kemalaman ketika menuju Ranu Kumbolo. Semakin dekat cahaya justru sosok di belakang cahaya itu tak nampak. Cahaya itu berhenti tepat di depan shelter dan kemudian menghilang. Kami tak mendengar suara apapun setelah menghilangnya cahaya putih tersebut. Karena tak mau berpikir hal aneh kami pun segera tidur.

IMG-20130329-01707
Semburat Matahari Pagi di Ranu Kumbolo

Mentari pagi muncul di antara dua bukit yang bersebelahan di sisi lain danau. Kabut tipis bergulung-gulung syahdu di permukaan danau. Suasana mencekap semalam menghilang seiring dengan terbitnya matahari. Pagi itu kami berangkat melalui jalur yang kemarin kami lalui.

Terjadi kesalahpahaman ketika kami berjalan turun. Kami terpisah dengan Tyo dan Bagus yang ternyata melalui jalur kembali menuju pos registrasi sedangkan kami telah tiba di ujung kampung dan menunggu mereka. Setelah beberapa lama menunggu saya dan Peter memutuskan kembali menuju lajur pendakian untuk menjemput mereka namun mereka tak kelihatan. Pikiran-pikiran negatif mulai mengganggu kami. Sinyal telepon sangat susah disini. Saya berusaha naik ke tempat yang agak tinggi dan mencoba menghubungi mereka. Telepon tersambung. Mereka ternyata telah berada di Tumpang. Mereka melalui jalur yang salah sehingga tembus di pos registrasi. Ketika tiba di pos registrasi mereka dihukum oleh petugas karena menerobos masuk TNBTS tanpa izin. Mereka disuruh membersihkan sampah dan sempat direndam di dalam Ranu Pani. Setelah tahu mereka telah berada di Tumpang kami akhirnya lega dan kemudian menyusul mereka turun menggunakan truk bapak yang telah kami hubungi ketika di dalam perjalanan turun menuju Ranu Pani.


Menerobos masuk TNBTS adalah sebuah pelanggaran. Kami melakukan hal tersebut karena kami sebelumnya tidak mengetahui sistem pendakian gunung yang ada di Jawa. Jalur yang kami lalui adalah jalur gunung Ayak-Ayak yang kini telah ditutup total oleh pihak TNBTS.

Mohon jangan ditiru

Tetap mengeksplor kekayaan alam Indonesia dengan bijaksana dan Salam Lestari.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s