BERKELANA DI RUMAH ANOA : PEGUNUNGAN LATIMOJONG

Pendakian ke Rantemario (salah satu puncak di pegunungan Latimojong) sudah saya rencanakan sejak tahun 2016 dan baru terealisasi pada awal tahun 2017.  Latimojong adalah salah satu pegunungan yang ada di pulau Sulawesi tepatnya berada  Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Gunung Latimojong memiliki beberapa puncak dengan puncak yang tertinggi bernama puncak Rantemario 3.478 mdpl. Rantemario sekaligus menjadi puncak tertinggi di pulau Sulawesi dan sering disebut sebagai salah satu seven summits Indonesia. Sebagai salah satu puncak tertinggi di Indonesia Rantemario menjadi spot yang paling diburu oleh para pendaki di Indonesia. Selain ketinggiannya Rantemario akan menyuguhkan 1001 pesona yang tak kalah menariknya.

Ini adalah perjalanan ke gunung di luar Sulawesi Utara (tempat saya berdomisili). Perjalanan darat menuju Rantemario dapat memakan waktu yang cukup lama sehingga jarang ada pendaki-pendaki di wilayah Sulawesi bagian Utara yang melakukan ekspedisi ke sana selain jika disponsori. Hal ini berbeda dengan pendakian di pulau Jawa yang dapat diakses dengan sangat mudah dan murah.

Perjalanan saya kali ini dimulai dari kota Manado, Sulawesi Utara. Sebelumnya saya telah melakukan kontak dengan salah satu sahabat di komunitas penggiat alam yang berdomisili di kota Makassar. Bang Ardi namanya. Beliau adalah salah satu tokoh penggiat alam yang cukup dikenal di wilayah Sulawesi Selatan. Sebelumnya kami bertemu pada kegiatan gathering penggiat alam di Yogyakarta. Beberapa hari sebelum keberangkatan Bang Ardi memberi kabar bahwa beliau tidak bisa menemani kami dalam pendakian. Bang Ardi memberikan kontak salah satu temannya yang bersedia mengantarkan kami menuju Latimojong, Namanya Bang Elong. Saya berangkat dari Manado bersama 2 orang lainnya, namun salah satu darinya menggunakan penerbangan yang berbeda dengan selisih 1 jam. Penerbangan Manado-Makassar memakan waktu 1 jam lebih. Penerbangan yang kami ambil adalah penerbangan paling pagi dengan harapan bahwa kami bisa tiba di basecamp pada hari itu juga.

Kami tiba di Makassar pukul 07.00 WITA. di Bandara kami disambut oleh 2 orang teman komunitas yang sebelumnya telah dihubungi oleh bang Ardi, mereka adalah Mitha dan Rahmat dari FPPAI Sulsel.

20170110_093800.jpg
Foto Dulu Sebelum Berangkat

Kami harus menunggu salah satu teman yang berangkat dengan selisih 1 jam tersebut. Sambil menunggunya kami packing kembali barang-barang yang akan dibawa ke Latimojong. Selain orang yang kami tunggu di bandara ada salah satu teman kami yang juga akan join dalam pendakian nantinya. Dia telah tiba beberapa hari sebelumnya dan menunggu kami di basecamp. Selesai packing saya menghubungi sopir kendaraan yang akan membawa kami menuju basecamp. Oh yah selain menggunakan carteran (Avanza, Kijang dll) kalian dapat menggunakan bus untuk menuju ke Baraka, kota kecamatan yang berada di kaki pegunungan Latimojong.

Setelah berpamitan kami berangkat menuju Baraka. Sebelumnya mobil yang kami kendarai singgah untuk mengambil penumpang di terminal. Ternyata sangat lama kami menunggu sehingga kami baru berangkat pukul 12.00 WIB dari terminal menuju Baraka. Untuk logistik bang Elong dan teman kami yang sudah di basecamp yang menanganinya. Perjalanan menuju basecamp ditempuh selama 8 jam. Setelah berjam-jam hanya terduduk manis di kursi penumpang akhirnya kami tiba di basecamp, waktu itu kira-kira sekitar pukul 20.00 WITA. Disini kami packing kembali dan mempersiapkan segala sesuatu untuk pendakian besok hari. Dari basecamp menuju desa terakhir harus menggunakan jeep atau jasa ojek. Saat itu untuk menggunakan jeep tidak memungkinkan dan harganya akan lebih mahal karena kami hanya berlima sehingga diputuskan untuk menggunakan jasa ojek. dibutuhkan waktu 2-3 jam untuk menuju dusun Karangan. Dapat dibayangkan energi kami hampir habis hanya untuk perjalanan menuju starting point pendakian. Di tengah perjalanan salah satu motor yang kami gunakan mengalami masalah. Maigat perjalanan masih jauh dan kami sudah mendapat masalah. Kami kemudian diantar secara bergantian oleh teman-teman ojek gunung tersebut hingga ke dusun Karangan. Jalur yang kami lalui menuju dusun Karangan pun boleh dikatakan sangat istimewa karena dapat dipastikan kalian tidak akan berhenti menjerit karena seringkali motor yang digunakan masuk lubang atau hampir keluar jalur. Jalan menuju dusun Karangan terbuat dari beton namun di beberapa titik masih berupa tanah yang sangat berlumpur jika terjadi hujan dengan tingkat kemiringan yang ekstrem.

Setelah hampir 3 jama akhirnya kami tiba di dusun karangan tanpa kekurangan satu apapun. Alhamdulillah. Hari sudah sangat larut ketika kami tiba. Kami langsung dibawa menuju rumah salah satu teman bang Elong untuk beristirahat. Suhu disini lumayan dingin karena tepat berada di kami pegunungan Latimojong. kami memutuskan untuk mempersiapkan hal-hal lainnya besok hari karena tubuh yang sedah kebangetan capeknya tidak mau berkompromi lagi. Kami pun tertidur pulas.

IMG_8828.JPG
Suasana Pagi di Dusun Karangan

Kami terbangun pagi-pagi sekali dan kami bergegas mempersiapkan diri dan memastikan logistik yang akan dibawa selama pendakian. Setelah merasa semuanya telah siap kami pun bergerak meninggalkan dusun Karangan. Bismillah. Pukul 09.00 WITA kami berangkat. Perjalanan menuju pos 1 awalnya cukup landai sebelum berhadapan dengan tanjakan-tanjakan sadis di area perkebunan kopi.

IMG_8983.JPG
Dusun Karangan, Starting Point Pendakian Latimojong

Cuaca hari itu sangat mendukung. Langit biru cerah dengan gumpalan-gumpalan awan tipis. Namun yang harus diperhatikan jalur menuju pos 1 adalah bahwa jalur tersebut merupakan area terbuka yang hanya ditumbuhi semak-semak dan tanaman kopi yang diselingi oleh beberapa pohon pinus. Bagi kalian yang tidak tahan panas harus menggunakan pakaian yang tertutup jika tidak mau gosong terpanggang panasnya matahari.

Jalur menuju pos 1 cukup menguras energi kami karena teriknya matahari sehingga kami seringkali berteduh untuk sedikit menghela nafas panjang. Oh yah kalian tidak perlu takut untuk kehabisan air di sepanjang jalur menuju Rantemario karena sumber air disini tersedia sangat melimpah dan jernih.

20170111_092616.jpg
Salah Satu Sumber Air Di Jalur Pendakian

Sekitar 1.5 jam lamanya akhirnya kami tiba di pos 1 yang masih berupa area terbuka di perkebunan kopi sehingga saat itu kami hanya berlindung di bawah tanaman kopi untuk menghindari sinar matahari. Kami tidak beristirahat lama disini karena tujuan akhir kami nantinya di pos 5 dan itu masih sangat jauh.

20170111_102139.jpg
Pos 1

Kami melanjutkan langkah menuju pos 2. Setelah melewati 2 bukit kami tiba di pintu masuk hutan. Jalur menuju pos 2 didominasi oleh hutan hujan dengan tingkat kerapatan vegetasi yang sangat tinggi sehingga jarang sinar matahari yang masuk. Perjalanan disini terasa lebih nyaman karena udaranya yang lebih sejuk. Kami harus melewati sebuah tanjakan panjang sebelum akhirnya jalur akan mulai datar dan cenderung menurun. Menurut bang Elong, Pos 2 memang terletak di persimpangan jalur pendaki dengan aliran sungai sehingga posisinya berada di lembah. 1 jam berjalan dari pos 1 kami tiba di pos 2 dan … Suasana di pos 2 ini sangat nyaman.

IMG_8939.JPG
Pos 2

Terdapat aliran sungai yang cukup deras dan memiliki kolam  dengan air yang dingin dan sangat jernih sehingga membuat saya tergoda untuk menceburkan diri ke dalamnya.

20170111_120430.jpg
Akhirnya Saya Menceburkan Diri Juga

Pos 2 merupakan salah satu lokasi camp favorit pendaki yang akan menuju ke Rantemario ataupun yang akan turun kembali. Selain sumber air pos 2 memiliki gua batu yang secara alami membentuk shelter sehingga sangat nyaman untuk ditempati. Disini kami berhenti cukup lama. Kami beristirahat untuk memasak makan siang dan membersihkan diri. 1 Jam kami disini.

Setelah selesai makan siang dan cukup beristirahat kami kembali melangkah. Jalur yang kami lalui kali ini merupakan salah satu jalur dengan medan yang paling berat. Masih didominasi oleh vegetasi rapat dengan tingkat kemiringan yang sangat ekstrem.

20170111_155242.jpg
Salah Satu Spot di Jalur Pendakian

Beberapa titik kami bahkan harus berjalan menggunakan kaki cadangan (maksudnya kedua tangan). Sebenarnya jarak pos 2 ke pos 3 tidak terlalu jauh namun dengan medan yang ekstrem membutuhkan waktu 2 jam untuk tiba di pos 3. Tiba di pos 3 kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Jalur menuju pos 4 tidak seekstrem sebelumnya namun lebih jauh dan memakan waktu 1-1,5 jam. Suasananya juga tak nampak berbeda antara pos 3 dan pos 4. Keduanya hanya memiliki sedikit lokasi dengan tanah lapang yang dapat digunakan sebagai camping ground. Menuju pos 5 membutuhkan waktu 2 jam dengan medan yang hampir sama namun pepohonannya sudah lebih pendek dan berlumut. Selain pos 5 lokasi camp sebelum puncak sebenarnya juga terdapat di pos 7 dan pos 8 atau bahkan di sekitar puncak. Namun mengingat kondisi tubuh yang sudah mulai kepayahan kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 5. Di pos 5 terdapat banyak lokasi yang dapat dijadikan untuk mendirikan tenda. Dan disini juga terdapat sumber mata air yang dapat ditempuh 30 menit pergi pulang. Langit malam itu sangat cerah seperti yang kami harapkan. Maklum kami mendaki pada bulan basah sehingga sangat mungkin cuaca berubah dengan cepat. Kami memutuskan untuk istirahat lebih awal agar dapat menuju puncak dini hari.

Apalah daya mulut hanya mampu berdoa namun kuasa ada di tangan Yang Maha Kuasa. Cuaca berubah drastis. Dini hari hujan turun cukup deras. Dalam hati saya berpikir bahwa kami tak dapat keluar dengan kondisi hujan seperti ini. Kami pun menunggu hingga hujan reda. Pukul 06.00 WITA kami baru bergerak menuju puncak.

20170112_075851.jpg
Menuju Pos 6

Sudah telat memang untuk menyaksikan momen indah di saat terbitnya sang mentari namun sisa-sisa keindahannya dapat kami lihat di jalur pendakian menuju pos 6. Medan yang kami lalui kali ini terus menanjak dan melalui hutan lumut dengan pijakan berupa jalur batu dan tanah. Sedikit menghela nafas di pos 6 kami melanjutkan perjalanan menuju pos 7. Sekitar 1 jam kemudian kami tiba di pos 7.

20170112_085529.jpg
Pos 7

Disini kami mengisi sedikit air dan beristirahat. Pos 7 merupakan dataran yang cukup luas dan merupakan area terbuka. Ini merupakan lokasi terbaik untuk menyaksikan pemandangan di saat malam hari. Di sini juga mengalir sebuah sungai kecil yang alirannya tidak deras namun sangat jernih.

20170112_090554.jpg
Sumber Air DI Pos 7

Selama melakukan pendakian inilah gunung yang paling melimpah air jernihnya. Sesaat kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pos 8. Jalur yang kami lewati cukup ekstrem dengan tanjakan yang curam. Namun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di pos 8. Pos 8 sebenarnya sudah termasuk kawasan puncak. Pos 8 ditandai dengan hamparan bebatuan yang berwarna putih. Dari sini terdapat pecabangan jalur. Jika mengambil kanan kita akan tiba di puncak Nenemori (3397 mdpl) dan jalur kiri menuju Rantemario (3478 mdpl). Dari sini jalur menuju Rantemario sudah lebih bersahabat. Medan yang dilalui berupa tanah dan bebatuan khas puncak gunung. Kami harus naik turun bukit sebelum akhirnya tiba di Rantemario. Saat itu kabut tebal telah menyelimuti kawasan puncak dengan angin yang sangat kencang. Udara menjadi sangat dingin sehingga kami harus menggunakan jaket. Setelah beberapa saat dengan kondisi tenaga yang cukup terkuras akhirnya kami dapat menjejakkan kaki di atap Sulawesi.

20170112_110516.jpg
Puncak Rantemario Berupa Tugu Triangulasi

Terharu jika mengingat momen tersebut. Sayang sekali kami tidak dapat mengabadikan pemandangan di sekitarnya dengan jelas. Kami mengambil dokumentasi dengan latar belakang kabut putih. Yang kami syukuri adalah kami bisa tiba sebelum badai besar menerjang kawasan puncak. 1 jam lamanya kami berada di puncak tertinggi di Sulawesi ini.

Perjalanan turun tidak dapat dikatakan mudah karena badai  yang saat itu menerjang sangat kuat. Hujan disertai angin dingin menambah situasi semakin parah. Jarak pandang sangat terbatas. Saati itu saya dan teman-teman hanya berfikir agar kami dapat dengan cepat tiba di pos 5. Hujan turun sangat deras untuk beberapa saat. Jalur yang licin semakin memperlambat langkah kaki kami. Tiba di pos 6 hujan sudah mulai reda namun kabut belum juga hilang. Kami singgah untuk beberapa menit di hutan lumut yang ada di sekitar pos 6 untuk mengambil dokumentasi.

20170112_130021.jpg
Hutan Lumut

Hujan telah reda saat itu. Kami pun tiba di pos 5 sekitar pukul 14.00 WITA. Kami segera mempersiapkan makan siang sambil mem-packing barang-barang agar dapat segera turun ke dusun Karangan. Persiapan turun tidak berjalan semulus rencana awal. Salah satu teman memiliki masalah dengan packingannya. Hampir Pukul 5 sore baru kami melangkah turun. Sebelumnya di pos 5 telah ada beberapa pendaki dari Jakarta dan daerah Sulsel lainnya yang tiba. Kami pun turun. Perjalanan turun pun tidak berjalan lancar. Salah seorang (Israel) teman mengalami masalah dengan engkel kakinya sehingga tidak dapat berjalan dengan cepat. Kami menunggu cukup lama di pos 3 sebelum akhirnya saya dan dua orang lainnya memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Bang Elong bersedia menunggu Israel. Saat itu matahari hampir terbenam dan jalur menjadi semakin gelap. Belum juga tiba di pos 2 hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Jalur ini merupakan jalur terberat saat naik dan tambah berat saat turun dengan kondisi hujan. Kami bertiga turun dengan sangat perlahan. Akhirnya dengan keadaan basah kuyub kami tiba di pos 2. Saya segera membuka tenda di bawah tebing batu dekat dengan aliran sungai karena itu adalah lokasi yang paling aman saat itu. Setelah membuka tenda kami berganti pakaian kering dan segera memasak makan malam. Bang Elong dan  Israel tiba sejam kemudian. Ternyata israel mengalami dehidrasi ketika turun karena dia tidak membawa cadangan air ketika turun. Menurut bang Elong dia meminum air hujan saat turun. Syukurlah tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Setelah makan malam kami beristirahat menunggu pagi.

Keesokan harinya matahari menyapa dengan manja di sela-sela pepohonan. Cuaca cerah setelah 1 hari 1 malam langit mencurahkan air matanya. Hari ini kami tidak begitu terburu-buru waktu untuk turun karena dusun Karangan tidak jauh lagi. Setelah sarapan kami packing dan segera turun meninggalkan pos 2.

Sepanjang jalur kami berpapasan dengan pendaki lain dan pemburu. Disini hewan yang diburu adalah Anoa, satwa endemik Sulawesi yang kini keberadaannya semakin menyusut akibat dari perburuan liar. Sangat disayangkan perburuan terus terjadi. Penanda-penanda larangan untuk perburuan seakan tidak memiliki makna. Hanya menjadi onggokan sampah yang tak pernah dilirik. Perlu adanya usaha yang kuat dari pemerintah dan penggiat alam untuk mensosialisasikan mengenai hal ini kepada masyarakat setempat.

Perjalanan turun dari perkebunan lebih cepat karena berat beban yang kami bawa sudah mulai berkurang. Cuaca juga tidak terlalu panas sehingga kami dapat berjalan dengan nyaman.

Kami tiba di dusun Karangan pukul 11.00 WITA. Kami disambut oleh teman-teman ojek gunung yang telah dikontak terlebih dahulu oleh bang Elong ketika berada di kebun kopi. Israel dan Naftali harus dijemput oleh ojek di sekitar perkebunan kopi karena berjalan lebih lambat dari kami. Tanpa beristirahat lama kami langsung tancap gas menuju basecamp Sikolong dan tiba pukul 13.00 WITA. Kabar buruknya mobil yang seharusnya mengantarkan kami menuju Makassar sudah berangkat dari pagi sehingga kami harus mencari mobil lainnya. Untungnya ada salah satu mobil yang akan berangkat menuju Makassar hari itu juga sore nanti. Sambil menunggu keberangkatan kesempatan itu kami lakukan untuk membersihkan diri dan mengeringkan sebagian barang-barang kami yang basah terkena hujan kemarin.

20170113_162247
Basecamp KPA Sikolong

Sebelum berangkat kami berpamitan kepada bang Elong. Bang Elong sendiri akan kembali ke Pare-Pare menggunakan sepeda motor. Jam 16.00 WITA kami meluncur menuju Makassar. Perjalanan kembali menuju Makassar lebih cepat dibandingkan dengan perjalanan menuju Baraka. Hanya dalam waktu 6 jam kami sudah tiba di Makassar. Di Makassar kami dijemput oleh bang Ardi.

20170114_073956.jpg
Rumah Bang Ardi di Makassar

Di Makassar kami menghabiskan beberapa hari untuk beristirahat dan mengikuti acara camping ceria komunitas pecinta alam se-Sulawesi Selatan. Syukur Alhamdulillah pendakian menuju atap Sulawesi kali ini dapat terwujud tanpa kekurangan satu apapun juga.

Terima Kasih Rantemario atas keindahan alamnya, Teruslah Lestari.
Terima Kasih kepada seluruh teman-teman yang turut membantu pendakian waktu itu; Bang Ardi, Bang Elong, Rahmat, Mitha, Tim Picah Bitis (Anggella, Israel dan Naftali).

Salam Lestari

____________________________________________________________________________________________

Transportasi:

  1. Manado – Makassar Rp. 500.000,00 (dapat berubah sewaktu-waktu, ini adalah nilai tangah) dengan pesawat terbang.
  2. Makassar – Basecamp Sikolong Rp. 150.000,00 dengan mobil carteran.
  3. Basecamp Sikolong – Dusun Karangan Rp. 150.000,00 dengan ojek.

____________________________________________________________________________________________

Cek juga video pendakian kami pada link dibawah ini yah.

PENDAKIAN PEGUNUNGAN LATIMOJONG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s