SAMARANTU YANG MELEGENDA : PENDAKIAN GUNUNG SLAMET

IMG_6431.JPGGunung Slamet adalah adalah salah satu gunung berapi bertipe stratovolcano yang terdapat di pulau Jawa, tepatnya berada di perbatasan lima kabupaten di Jawa Tengah yaitu, Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang. Gunung Slamet merupakan gunung dengan puncak tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di pulau Jawa setelah gunung Semeru (3676 mdpl) di Jawa Timur. Sampai saat ini status gunung Slamet masih aktif dan selalu mengeluarkan asap solfatara dari kawah di puncaknya. Gunung Slamet terakhir kali meletus pada 2014 silam.

Menurut cerita masyarakat Jawa nama slamet diambil dari bahasa Jawa yang artinya selamat. Nama ini diberikan karena dipercaya gunung ini tidak pernah meletus besar dan memberi rasa aman bagi warga sekitar. Menurut kepercayaan warga sekitar, bila Gunung Slamet sampai meletus besar maka Pulau Jawa akan terbelah menjadi dua bagian. Selain itu gunung Slamet juga menjadi rumah bagi satwa liar yang kini terancam punah, panthera pardus melas atau macan tutul jawa.

Slamet menjadi salah satu gunung yang paling diburu oleh para pecandu ketinggian sehingga banyak jalur pendakian yang menawarkan keindahan Slamet dari berbagai sisi. Di antaranya yaitu, jalur pendakian via Guci, Baturraden, Dipajaya dan Bambangan. Nama terakhir merupakan jalur pendakian yang paling sering dilalui oleh pendaki maupun wisatawan. Untuk menuju puncak melalui jalur Bambangan kalian harus melalui 9 pos.

Pendakian Gunung Slamet

Pendakian ke gunung Slamet sebenarnya sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, namun karena kesibukan di kampus membuat rencana pendakian itu sempat tertunda. Minggu pertama November saya dan tiga orang teman lainnya memutuskan untuk melakukan pendakian. Saya dan Tyo berangkat dari Yogyakarta. Mas Alpin dari Salatiga dan Bagus dari Surabaya. Mengingat lokasi awal keberangkatan kami yang berbeda-beda kami memutuskan untuk bertemu di basecamp Bambangan.

Saya dan Tyo berangkat dari Yogyakarta menggunakan bis eksekutif. Dari Yogyakarta bis meluncur mulus menuju Purwokerto. Perjalanan menuju Purwokerto ditempuh kurang lebih 6 jam di siang hari. Perjalanan malam dapat lebih singkat karena volume kendaraan yang lewat juga tidak banyak seperti siang hari. Kami tiba di Purwokerto sore hari. 20151113_112106.jpgDari Purwokerto kami menggunakan shuttle bis menuju Purbalingga. Di terminal Purbalingga kami naik bis kecil ke arah Pemalang dan berhenti di pertigaan Serayu. Waktu kami tiba di Serayu mas Alpin sudah lebih dulu tiba di basecamp karena dia berangkat lebih awal dari Salatiga. Bagus sendiri masih di dalam perjalanan dan kemungkinan tiba tengah malam nanti. Saya dan Tyo menumpang mobil sayur untuk menuju ke basecamp Bambangan. Untung masih ada beberapa orang pendaki yang saat itu juga akan menuju basecamp sehingga biaya sewa dapat kami bagi-bagi. Perjalanan menuju basecamp Bambangan ditempuh dalam waktu 2 jam. Kami tiba di basecamp jam 7 malam.

Mas Alpin yang sudah lebih dulu di basecamp mencak-mencak saat kami tiba. Katanya kami kelamaan. Hahaha…, bukannya kami yang kelamaan tapi dia yang terlalu cepat. Tibanya di basecamp kami segera mempacking kembali barang-barang yang akan kami bawa. Disini sinyal handphone sangat sulit sehingga kami tidak dapat menghubungi bagus. 20151113_193257.jpgKami sempat meninggalkan pesan kepada teman-teman komunitas di Purwokerto agar dapat menjemput bagus jika dia sudah tiba di Terminal. Tengah malam kami mendapatkan info jika Bagus telah dievakuasi oleh teman-teman dari KPGR Barlingmascakeb dan akan diantarkan ke basecamp pada besok pagi. Setelah mendengar informasi tersebut kami segera berstirahat agar tenaga kami pulih dengan cepat besok hari.

Keesokan harinya kami bersiap-siap sambil menunggu bagus datang. Sekitar pukul 7 Bagus tiba diantar oleh beberapa teman dari KPGR Barlingmascakeb. Setelah ngobrol tentang kegiatan komunitas kami pamit untuk segera melakukan pendakian. Kami memang merencanakan pendakian pagi hari agar dapat tiba di camping ground di pos 5 atau pos 7 pada sore hari. Pendakian pun dimulai.

Jalur dari basecamp ke pos 1 berupa jalur jalan semen yang melintasi perkebunan warga. 20151114_083011.jpgJika tidak ingin melalui jalur ini kalian dapat melalui jalur tanah berbatu di sebelah kanan pos registrasi. Setelah melewati perkebunan kami bertemu tanah lapang seperti lapangan bola dan di sekelilingnya ditumbuhi oleh pohon pinus dan cemara gunung. Setelah melalui tanah lapang tersebut jalur akan mulai menanjak namun masih dengan kondisi tanah yang cukup stabil. Jalur kemudian akan sangat menanjak saat kita tiba di hutan pinus. Kami mengambil jalur zigzag agar supaya tenaga tidak cepat terkuras. Tanjakan menuju pos 1 ini memang cukup melelahkan dan membuat dengkul bergoyang-goyang. Di akhir tanjakan akan terlihat warung-warung yang dibuat oleh penduduk setempat. IMG_6329.JPGPerjalanan menuju pos 1 ditempuh kurang lebih selama 1 jam 30 menit. Kami beristirahat cukup lama di pos 1 untuk makan siang karena kami tiba disitu hampir tengah hari. Pos 1 gunung Slamet memang sangat menggoda pendaki untuk beristirahat agak lama. Bagaimana tidak sudah capek melalui tanjakan terjal kemudian kami disambut oleh potongan semangka yang merah yang segar dan segelas minuman dingin yang ditawarkan oleh pemilik-pemilik warung.

1 jam beristirahat kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur yang kami lalui merupakan jalur dengan vegetasi rapat yang ditumbuhi oleh lamtoro hutan. Jalur semakin menanjak namun banyak terdapat bonus. Semakin ke atas semakin rapat hutan yang kami lalui. 1 jam perjalanan membawa kami tiba di pos 2. 20151114_125859.jpgDi pos 2 ini juga ada penduduk yang berjualan namun tidak sebanyak di pos 1. Kami tidak beristirahat lama disini. Hanya sekedar meluruskan kaki dan tulang belakang. Perjalanan kami lanjutkan menuju pos 3. Jalur yang kami lalui pun masih sama yaitu hutan yang sangat rapat dengan akar pohon yang malang melintang. Di pos 3 kami bertemu percabangan jalur yang akan menuju puncak dan basecamp Dipajaya, Pemalang. Perlu hati-hati jika turun dari puncak ketika melewati pertigaan ini karena papan petunjuknya terlihat agak samar-samar. Di pos 3 kami juga tidak beristirahat lama mengingat hari yang semakin sore. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Kami tiba di pos 4 ketika hujan gerimis turun dan berubah semakin deras. Kami memutuskan untuk berlindung di bawah pepohonan yang tumbang di sekitar pos 4. Pos 4 merupakan pos yang paling dihindari oleh pendaki untuk mendirikan tenda. Menurut cerita pendaki-pendaki lain pos 4 merupakan lokasi yang sangat angker dan seringkali pendaki yang terpaksa camp disini mengalami hal-hal mistis. Saya sempat teringat cerita tersebut ketika sedang berteduh saat itu.  Cukup membuat bulu kuduk merinding jika berlama-lama di pos 4 (Samarantu). Sesaat setelah hujan berhenti kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Saya sebenarnya sudah sangat kelelahan. Saya dan Bagus berjalan paling belakang dari rombongan pendaki-pendaki yang saat itu bergerak meninggalkan pos 4. Berbagai pikiran memenuhi kepalaku saat berada di posisi paling belakang. Saat itu hujan telah berhenti namun kabut masih sangat tebalnya. Dengan sisa-sisa tenaga saya mempercepat langkah agar secepatnya dapat tiba di pos 5. Kami tiba di pos 5 pukul 5 sore. Rencananya setelah beristirahat untuk makan kami akan melanjutkan perjalanan menuju camping ground terakhir di pos 7. Namun ternyata kondisi fisik bagus sudah sangat kepayahan sehingga kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 5. Di pos 5 ini masih terdapat shelter yang digunakan oleh warga untuk menjual makanan dan air kepada pendaki. Saat itu pendaki yang naik sangat banyak sehingga tenda kami berhimpit-himpitan dengan tenda pendaki lain. Suhu semakin turun dan kami pun segera kami menyiapkan makan malam agar dapat beristirahat lebih awal. Kondisi saya pun sebenarnya sudah sangat drop. Perjalanan yang jauh dari Yogyakarta memakan sebagian besar energi ketika mendaki ke gunung Slamet ini. sebelum tidur saya sempat keluar untuk menghangatkan diri di api unggun yang berada di dekat shelter. Saat itu kebanyakan pendaki telah beristirahat sehingga tinggal saya dan mas Alpin yang berada di luar tenda. Mas Alpin menceritakan pengalaman-pengalaman mistisnya ketika mendaki di beberapa gunung di Jawa. Saya pun ikut larut dalam cerita-ceritanya yang membuat bulu roma berdiri. Entah karena pengaruh cerita atau ini memang terjadi saya melihat sekelebat bayangan hitam lewat di samping saya. Segera saya mengajak mas Alpin untuk masuk dan beristirahat di dalam tenda. Perjalanan menuju puncak besok masih jauh sehingga kami memutuskan untuk mendaki sedini hari mungkin.

Dini hari pukul 3 kami bersiap-siap berangkat untuk summit attack. Cuaca terlihat sangat cerah, bintang dan cahaya bulan terlihat sangat cemerlang dari sini. Suhu udara sangat dingin saat itu. Kami berjalan perlahan merayapi rimba Slamet yang kelam itu. Tenaga yang belum cukup pulih membuat kami cukup kelelahan ditambah dingin yang menusuk tubuh. Ternyata pos 5 menuju pos 7 tidak membutuhkan waktu yang lama. Malam masih sangat kelam ketika kami tiba di pos 7. Kami beristirahat di pos 7 cukup lama karena Bagus mengalami kedinginan yang sangat hebat dan Tyo yang tiba-tiba kelaparan. Setelah cukup lama berhenti kami pun melanjutkan perjalanan, namun Tyo ternyata masih sangat kelaparan. Untungnya di pos 7 masih ada penjual makanan. Tyo menyuruh kami untuk terlebih dahulu naik ke puncak sambil dia menunggu makanannya jadi. Saya, mas Alpin dan Bagus pun melanjutkan perjalanan. Jalur yang kami lalui semakin menanjak dengan kondisi vegetasi yang sudah mulai pendek. Kami tiba di di pos 9 (Plawangan) sebelum fajar menyingsing. Tyo belum juga Nampak. Dari Plawangan menuju puncak kami harus melalui bebatuan yang cukup tajam dan pasir. Diperlukan konsentrasi yang ekstra ketika melalui jalur ini.IMG_6339.JPG Sebelum puncak sinar oranye matahari pagi mulai Nampak di ufuk timur. Saya dan Bagus berhenti sejenak untuk menikmati dan mengabadikan momen indah tersebut. 20151115_050711.jpgsetelah itu kami pun kembali menanjak jalur bebatuan terakhir menuju puncak gunung Slamet. Pukul 6.30 kami tiba di puncak gunung Slamet. Cuaca sangat cerah. Sindoro, Sumbing dan Dataran tinggi Dieng dapat terlihat dengan jelas di sebelah barat terlihat puncak gunung Ciremai di Jawa Barat yang menjulang tinggi di atas awan. Pagi itu angin bertiup cukup kencang. Kawah Slamet sungguh sangat luas dan besar. Nampaknya apa yang dicerikatan oleh orang-orang tentang apa yang akan terjadi jika Slamet meletus itu benar adanya. Kawah sebesar ini tentu akan menimbulkan kerusakan yang maha dahsyat jika meletus hebat.IMG_6341.JPG 30 menit kemudian Tyo muncul dengan senyum sumringah. Sekitar 1 jam lamanya kami mengambil foto dan beberapa rekaman video untuk dokumentasi perjalanan. Tyo dan Bagus memutuskan untuk turun duluan. Saya dan mas Alpin bergerak menuju bagian yang dekat dengan kawah utama. Dari dalam kawah gas belerang dan asap solfataranya menyembul ke angkasa dengan gemuruh suaranya. Dari sini jika mau kita sebenarnya bisa turun ke jalur pendakian lainnya.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah puas mengambil dokumentasi saya dan mas Alpin pun turun. Perjalanan turun dapat dikatakan tidak kalah sulitnya ketika mendaki. Batuannnya mudah lepas dan sangat tajam. Berbeda dengan gunung Semeru yang jika turun dari puncak kita dapat bermain sandboarding disini hal tersebut tidaklah mungkin. Kami turun secara perlahan hingga tiba di pos Plawangan. Dari Plawangan menuju pos 5 justru lebih mudah karena jalur yang dilalui hanya berupa tanah gembur namun perlu diwaspadai jika mendaki saat hujan karena pasti akan sangat licin. Tidak membutuhkan waktu lama untuk kami tiba di pos 5. Saya dan mas Alpin bertemu Tyo dan Bagus di pos 6. Mereka sedang bercengkrama dengan pendaki-pendaki lain sembari menikmati sebatang rokok.IMG_6485.JPG Setelah itu kami bergegas turun menuju lokasi camping. Tibanya di pos 5 mas Alpin dan Bagus bertugas memasak makan siang. Saya dan Tyo sambil mengepak barang-barang dan tenda sehingga ketika makan siang selesai kami dapat segera turun. Setelah makan siang kami beranjak turun.

Ada hal yang aneh dalam perjalanan kami turun. Saking gembiranya kami karena telah berhasil mencapai puncak Slamet tanpa disengaja kami berbicara dengan kata-kata yang tidak sopan. Kami merasa hal itu adalah wajar karena kata-kata yang kami ucapkan juga dalam Bahasa Manado. Dalam perjalanan dari pos 4 menuju pos 3 terjadi keanehan yang hanya dirasakan oleh saya, Tyo dan Bagus. Mas Alpin yang berada di posisi paling belakang justeru tidak merasakan apa yang kami rasakan. Seperti biasanya ketika tiba di pos-pos pendakian kami pasti berhenti sejenak sambil menagmbil beberapa foto atau sekedar melihat-lihat situasi disekitarnya. Ketika kami berjalan menuruni pos 4 menuju pos 3 tiba-tiba dalam waktu yang tidak terlalu lama kami malah tiba di pos 2 tanpa melewati pos 3. Padahal jalur saat itu ada banyak pendaki yang di belakang maupun di depan kami. Keanehan tersebut hanya dirasakan oleh kami bertiga. Saya yang berada di depan awalnya tidak yakin dan menanyakan kepada Tyo dan Bagus apakah tadi kami melewati pos 3 atau tidak, jawabannya sama mereka tidak merasa pernah melewati pos 3. Mas Alpin yang berada di belakang mengatakan bahwa kami malah sempat singgah di pos 3. Hal ini sangat aneh karena lebih dari 1 orang merasakan hal yang sama. Kami masih bersyukur karena tidak tersesat semakin jauh ke dalam hutan dan malah tiba lebih cepat dari perkiraan. Setelah kejadian tersebut saya berpikir bahwa kami bersikap tidak sopan terhadap alam yang sudah kami singgahi. Dimanapun kita berada sudah selayaknya kita menghargai alam dengan niat dan sikap yang baik. Ini menjadi pelajaran untuk saya dan teman-teman dalam melakukan aktivitas di alam bebas pada waktu yang akan datang.

Semoga bermanfaat

Tetaplah menjadi pelopor penggiat alam yang bertanggungjawab

Salam Lestari

Read more "SAMARANTU YANG MELEGENDA : PENDAKIAN GUNUNG SLAMET"

Tamu Tak Diundang Dan Auman Si Macan Di Rimba Semeru

Maret 2013 adalah waktu dimana kami memutuskan untuk melakukan pendakian di salah satu puncak tertinggi berapi di Indonesia. Gunung Semeru dengan puncaknya Mahameru. Mahameru adalah impian para pendaki di Indonesia. Selain karena ketinggiannya tapi juga segala keindahan yang terdapat di dalamnya serta misteri yang sampai sekarang hidup bersamanya. Gunung ini sejak dahulu menjadi spot yang […]

Read more "Tamu Tak Diundang Dan Auman Si Macan Di Rimba Semeru"

Secangkir Kopi Hangat Di Dalam Dinginnya Ranu Kumbolo : XPDC Van Java Part I

XPDC Van Java atau Ekspedisi gunung-gunung di pulau Jawa adalah nama yang diberikan untuk ekspedisi yang kami lakukan di tiga gunung yang ada di pulau Jawa. Gunung pertama yang menjadi tujuan kami adalah gunung Semeru yang berada di kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Gunung Semeru merupakan gunung dengan puncak tertinggi di pulau jawa (3.676 […]

Read more "Secangkir Kopi Hangat Di Dalam Dinginnya Ranu Kumbolo : XPDC Van Java Part I"

BERKELANA DI RUMAH ANOA : PEGUNUNGAN LATIMOJONG

Pendakian ke Rantemario (salah satu puncak di pegunungan Latimojong) sudah saya rencanakan sejak tahun 2016 dan baru terealisasi pada awal tahun 2017.  Latimojong adalah salah satu pegunungan yang ada di pulau Sulawesi tepatnya berada  Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Gunung Latimojong memiliki beberapa puncak dengan puncak yang tertinggi bernama puncak Rantemario 3.478 mdpl. Rantemario sekaligus menjadi […]

Read more "BERKELANA DI RUMAH ANOA : PEGUNUNGAN LATIMOJONG"

IMPLEMENTASI KERJASAMA ANTAR DAERAH SUBOSUKAWONOSRATEN DI BIDANG PARIWISATA

Latar Belakang Dalam kenyataan, kita mengenal batas wilayah administratif (sesuai peraturan perundangan), dan batas wilayah fungsional (sesuai hubungan sosial ekonomi lintas batas administratif). Setiap daerah memiliki batas wilayah administratif yang ditentukan secara formal melalui peraturan perundangan, akan tetapi dalam kenyataan berbagai masalah dan kepentingan sering muncul sebagai akibat dari hubungan fungsional di bidang sosial ekonomi […]

Read more "IMPLEMENTASI KERJASAMA ANTAR DAERAH SUBOSUKAWONOSRATEN DI BIDANG PARIWISATA"

Pendakian Yang Tak Pernah Direncanakan : Argopuro

Pendakian yang kami lakukan ini benar-benar tidak pernah direncanakan. Ide ini muncul begitu saja ketika kami tiba di terminal Bungurasih selasa pagi dari Yogyakarta. Dari terminal Bungurasih kami melanjutkan perjalanan menuju Basecamp Baderan. Perjalanan menuju basecamp mengharuskan kami berganti-ganti kendaraan. Dari Terminal Bungurasih kami naik bus ke kota Probolinggo dan kemudian berganti bus lagi yang […]

Read more "Pendakian Yang Tak Pernah Direncanakan : Argopuro"

KARAKTERISTIK RUANG KRIMINALITAS DI KOTA MANADO

Kriminalitas merupakan segala macam bentuk tindakan dan perbuatan yang merugikan secara ekonomis dan psikologis yang melanggar hukum yang berlaku dalam negara Indonesia serta norma-norma sosial dan agama. Dapat diartikan bahwa tindak kriminalitas adalah segala sesuatu perbuatan yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial, sehingga masyarakat menentangnya. (Kartono, 2009). Kriminalitas merupakan dampak dari berbagai masalah kepadatan […] […]

Read more "KARAKTERISTIK RUANG KRIMINALITAS DI KOTA MANADO"